Saya
pernah merasa terhina ketika tidak mendapatkan buku, karena orang tua saya
menyicil dan membutuhkan watu yang lama untuk melunasinya. Saya juga pernah
sedih ketika diledeki karena memiliki sepatu yang sudah jelek. Saya juga pernah
tidak diajak main dan memilih main sendiri, menggali-gali pasir. Saya juga pernah
merasa kecewa ketika tidak bisa mendaftar les karena biaya. Saya juga jarang
nongkrong, duduk duduk ngopi bersama teman-teman.
Kamu
pikir saya menderita?
Saat
itu, saya berumur sepuluh tahun. Kelas enam SD. Semua anak memakai tas dan
sepatu baru setiap tahun. Tapi, 2 tahun terakhir kehidupan keluarga kami sulit.
Saat itu membeli perlengkapan sekolah baru adalah impian. Impian baru saya. Keluarga
saya seperti ayam, yang bermimpi bahwa besok masih bisa hidup dan mencari makan.
Pagi mencari petang habis. Begitu setiap hari.
Saat
itu saya dan adik saya mendapat lusuhan sepatu dari sepupu saya. Saya yang
memakai. Sedang adik saya, akan diusahakan membeli baru dan dipakai hingga rusak.
Terkadang saya iri. Tapi, rasa iri itu cepat sekali berubah menjadi sedih saat
membayangkan adik saya mamakai sepatu jelek ini. Sepatu yang warnanya tak lagi
hitam, dengan sol yang menipis, dan sedikit koyak dibeberapa bagian.Saya sering
diejek saat itu.
Beberapa
orang akan berbisik dan menghina, rasanya hati saya sakit. Setiap pulang
sekolah saya selalu berharap mendapatkan sepatu bagus di pinggir jalan. Atau uang
yang banyak untuk membeli sepatu. Saya juga ingin cepat-cepat lulus SD dan
bekerja menjadi penjaga swalayan. Impian yang tak pernah saya dapatkan.
Di
tahun itu semuanya terasa sulit. Saya tidak mungkin meminta orang tua saya. Bahkan
meminta uang buku pun tak saya lakukan. Guru saya sudah mengingatkan, dari
perntanyaan hingga pernyataan. Dari lembut ke penghinaan. Saya tidak
mendapatkan buku, sedih awalnya. Tapi saya pikir untuk apa juga. Bukan kah ini
berkah, saya jadi tak perlu membayar buku.
Semenjak
tahun itu, jalan pikiran saya berubah. Saya tidak pernah menangis atas
penghinaan orang. Bahkan saya jadi tak peka pada penghinaan. Saya berubah.
Sebenarnya
saya berharap berubah menjadi seorang yang pekerja keras dan menghasilkan uang
tanpa meminta orang tua. Tapi ini juga tidak apa-apa.
Saya
juga tidak menyesal ketika cita-cita saya untuk menemukan sepatu dan menjadi
penjaga swalayan tidak tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar