1.
mana berani aku bicara,
saat kata berubah jadi senjata.
mana berani aku mengeluh,
saat keluh bisa membuat gaduh.
mana berani aku menangis,
saat tangis dianggap mengemis.
mana berani aku berbisik.
karena bisik membuatnya terusik.
2.
banyak orang menjadi penyanggah,
dimedia maya banyak profesor dan ahli agama.
banyak orang menjadi penengah,
padahal sebagian dari mereka orang yang kalah.
banyak orang jadi petani,
menebar bibit benci ditanah maya.
3.
hukum pidana tak bisa apa apa.
hanya menjerat kecoa tua.
sedang tikus lari dan bekarya.
Senin, 26 November 2018
Selasa, 23 Oktober 2018
Diari Masa Lalu Bagian 1
Saya
pernah merasa terhina ketika tidak mendapatkan buku, karena orang tua saya
menyicil dan membutuhkan watu yang lama untuk melunasinya. Saya juga pernah
sedih ketika diledeki karena memiliki sepatu yang sudah jelek. Saya juga pernah
tidak diajak main dan memilih main sendiri, menggali-gali pasir. Saya juga pernah
merasa kecewa ketika tidak bisa mendaftar les karena biaya. Saya juga jarang
nongkrong, duduk duduk ngopi bersama teman-teman.
Kamu
pikir saya menderita?
Saat
itu, saya berumur sepuluh tahun. Kelas enam SD. Semua anak memakai tas dan
sepatu baru setiap tahun. Tapi, 2 tahun terakhir kehidupan keluarga kami sulit.
Saat itu membeli perlengkapan sekolah baru adalah impian. Impian baru saya. Keluarga
saya seperti ayam, yang bermimpi bahwa besok masih bisa hidup dan mencari makan.
Pagi mencari petang habis. Begitu setiap hari.
Saat
itu saya dan adik saya mendapat lusuhan sepatu dari sepupu saya. Saya yang
memakai. Sedang adik saya, akan diusahakan membeli baru dan dipakai hingga rusak.
Terkadang saya iri. Tapi, rasa iri itu cepat sekali berubah menjadi sedih saat
membayangkan adik saya mamakai sepatu jelek ini. Sepatu yang warnanya tak lagi
hitam, dengan sol yang menipis, dan sedikit koyak dibeberapa bagian.Saya sering
diejek saat itu.
Beberapa
orang akan berbisik dan menghina, rasanya hati saya sakit. Setiap pulang
sekolah saya selalu berharap mendapatkan sepatu bagus di pinggir jalan. Atau uang
yang banyak untuk membeli sepatu. Saya juga ingin cepat-cepat lulus SD dan
bekerja menjadi penjaga swalayan. Impian yang tak pernah saya dapatkan.
Di
tahun itu semuanya terasa sulit. Saya tidak mungkin meminta orang tua saya. Bahkan
meminta uang buku pun tak saya lakukan. Guru saya sudah mengingatkan, dari
perntanyaan hingga pernyataan. Dari lembut ke penghinaan. Saya tidak
mendapatkan buku, sedih awalnya. Tapi saya pikir untuk apa juga. Bukan kah ini
berkah, saya jadi tak perlu membayar buku.
Semenjak
tahun itu, jalan pikiran saya berubah. Saya tidak pernah menangis atas
penghinaan orang. Bahkan saya jadi tak peka pada penghinaan. Saya berubah.
Sebenarnya
saya berharap berubah menjadi seorang yang pekerja keras dan menghasilkan uang
tanpa meminta orang tua. Tapi ini juga tidak apa-apa.
Saya
juga tidak menyesal ketika cita-cita saya untuk menemukan sepatu dan menjadi
penjaga swalayan tidak tercapai.
Selasa, 18 September 2018
materi cerita bab 1
Cerita
1:
Pembunuhan
Airangga
Cerita ini belum dikembangkan dengan
sempurna.
Pak Karsa dan istri,
menangis sedih. Elama ini Rangga disekolahkan tinggi tinggi hingga sarjana, di
bantu untuk kerja di kantor walikota hingga habi berjuta-juta. Kini tergeletak
tak berdaya, tak bernyawa.
Para warga datang
berkunjung ke rumah duka. Tapia apa daya, Pak Karsa gila, Bu Karsa, ahh jangan
bertanya. Bu Karsa baru menyusul putranya. Tak tahan dengan kerasnya hidup
membuat Bu Karsa menghadap Tuhannya.
Para warga riuh,
bingung menyalahkan siapa. Hanya diam-diam menaruh curiga pada Ngadimin.
Ngadimin mantan
tetangga Pak Karsa, selama ini gemar bergosip mengenai Airangga. Mungkin
Ngadimin kecewa karena anaknya tak menjadi pegawai di kantor walikota, meski
lulus tesnya. Ngadimin marah besar, tapi mau ngamuk pada siapa. Tes pegawainya
tak melalui BKN. Ya namanya juga pegawai sementara. Alhasil Ngadimin hanya
dapat melapor Mbah Kusuma.
Mbah Kusuma dulunya
penjual tahu di Pasar Kota. Kiosnya kecil dan jarang di lirik oleh nona-nona pernah muda, namun berkat
mimpi suatu malam mbah kusuma menerima wangsit untuk beralih profesi. Dan treng
treng treng Mbah Kusuma si tukang tahu kini menjelma menjadi dukun serba tahu. Serba
penyakit ia tahu obatnya, orang hilang ia tahu mencarinya, kini ia mulai tahu
ilmu ilmu garis keras (Teluh, susuk, pellet dan santet) semua ia tahu
mantranya.
Ngadimin yang terluka
hatinya, hendak mencari tahu apa sebab anaknya ditolak menjadi pegawai sementara.
Tanpa berpanjang cerita, tersebutlah satu nama. Airangga, anak Pak Karsa,
berkulit putih, hidung bangir, bermata sayu, tinggi 170, pendidikan terakhir
ssarjana ilmu sosial kampus ternama diluar kota.
Ngadimin marah, anaknya
memang sarjana juga tapi kampus negeri biasa. Ngadimin kecewa pada pemerintah,
pada presiden, pada DPR dan MPR, pada MA dan MK.
Ssejak hari itu Ngadimin
dendam ssakali. Ia tak meminta mbah Kusuma mengeluarkan jurus apa-apa. Bukan karena tak mau tapi ia tahu itu dosa. Jadilah
Ngadimin sendiri yang mengeluarkan jurus sakti. Menulis status dengan bumbu
tambahan dari mbah Google agar terlihat pintar. Status disebarkan dan cerita
Ngadimin viral. Birokasi dibenahi dan bully di mulai. Orang-orang seperti
Airangga disebut jendela lovers. Dan para jendela lovers merupakan korban
terempuk pada dunia baru. Dari FB hingga IG, bahkan di akun ML pun mereka dibully.
Bahkan ada warga yang
terang-terangan menghina Bu Karsa, ketika belanja di warung Yu Jum. Bu Karsa
hanya bisa membantah, toh bahkan orang yang membunuh tetap tidak akan disebut
tersangka sampai pengadilan memutuskan. Siapa yang dapat membuktikan bahwa
Airangga lewat jendela. Dukun tahu itu? Atau Ngadimin yang sekarang viral dan
pindah ke kota?
Langganan:
Komentar (Atom)