Kamis, 31 Mei 2012

cerpen



judul kalian karanglah sendiri


Lumpur, lumpur seakan menjamur di desaku tak balita tak lansia semua
menggilai lumpur seperti spora, lumpur ada di mana-mana ah lumpur kau
kini jadi idola. Sekarang lumpur sudah benar-benar menggila hampir di
setiap gang desa kau temukan lumpur dimuntahkan lalu ditelan banyak
yang mengatakan itu menjijikan tapi tidak di sini lumpur benar-benar
merajai desa ini sungguh dimuntah kan lalu ditelan aih itu proses yang
paling mengenakan dari balai desa hingga surau bahkan mesjidpun selalu
saja ada lumpur. tak terkecuali puasa lumpur masih digilai. kau jangan
kaget biar puasa penduduk desaku sering memuntahkan dan menelan
lumpur. oh ya jangan bicara agama dadesaku apalagi soal puasa dan
lumpur habis mati kau nanti erniat ke kampungku modalmu hanya satu
mulut yang berlumpur.

 Biar ku ceritakan dulu awal asal si lumpur jadi di puja-puja.

Dulu ada seorang pemuda tampan nan rupawan datang ke desaku, dia anak
kota entah kota apa yang pasti dia orang kota. Dia selalu bercerita
tentang bermacam-macam hikayat dan legenda. Karena itu semua ibu-ibu
datang kepadanya datang untuk melamar si pemuda. Terang si pemuda
bingung semua gadis di sini baik namun tak ada yang menarik si pemuda.

 jadilah para ibu-ibu merayu si pemuda dengan modal mulut tanpa
apa-apa para ibu sudah bisa saling menjatuhkan wau karena satu pemuda.
tampankah pemuda itu atau kaya mungkin apa di desa sudah tak ada
lelaki lagi? sebenarnya ada namun tak guna kerja tidak merepet saja
macam perempuan. tapi yang di repetkan aih cuma hal yang tak bisa
bikin kaya lah sudah buat apa, mending si pemuda merepet lalu dapatlah
duet cukuplah.

Belum ditolak belum diterima ibu-ibu desa sudah gencat senjata tebar
bicara sana sini menjelekan tetangga kanan kiri di depan si pemuda
agar si anak di terima. hal inilah yang memicu si lumpur
bertransfomasi jadi terlihat, semenjak itu aku sering melihat lumpur
di mana-mana namun belum ada warga yang sadar karena lumpur belum
terlalu mereka nikmati tapi selalu mereka muntahkan dan telan aneh.
kau tahu apa yang lebih aneh? aku ya aku karena aku dibilang gila.
siapa sekarang yang gila si penelan dan pemuntah lumpur apa aku sii
pencerita. baiklah aku akan bercerita tentang si pemuda lagi. Seperti
menerima surat PHK si pemuda sok sebab hal pemuda desa yang marah siap
adu tenaga lawan satu pemuda. Karena marah tak ada ibu di desa ini
yang mau terima lamaran mereka bahkan anak kepala desa sudah siap
dengan bata-batanya(maklum lulusan stm di kota sering tawuran namun
selalu dipihak yang gagal)

"pemuda tak tau diri enyah kau dari sini atau mau kau ku mutilisasi,
bukan mutilasi"

"benar itu. kau sudah membuat rusuh desaku"
"kalau kau tak mau angkat kaki juga ku habisi kau"


belum puas kemarahan mereka para ibu sudah datang dan melabrak mereka.

"eh nak damar dan kalian kenapa marah-marah disini pemuda itu baik
kok, malah mau di...mutilasi cangkemu nanti seng tak mutilasi"
"ada apa ini kalian jangan berkelahi, kalau kalian mau aku pergi aku akan pergi"
"lha ndak bisa to, nanti siapa yang jadi mantuku"
"menantu kau eh mbok ngaca-ngaca lha dia ni mau jadi menantu saya"
"ndak bisa"
"ndak bisa ndak bisa dia ni pas dengan si upik"
"oh wadalah si upikan dah jadi janda mending anak saya to masi perawan
ning-ning"
"tau dari mana kau anak kau perawan "
semua betengkar para ibu-ibu dan pemuda desa yang teracuhkan marah dan
betengkar.

Sebenarnya sudah dari hari pertama pemuda itu datang desaku mulai
berlumpur, bahkan sebelum ia datang tapi si lumpur belum berwujud
lumpur tapi kini nyata itu lumpur lumpur yang ditelan dan dimuntahkan
dimuntahkan lalu ditelan sungguh mengasikan jika menghabiskan hari
dengan lumpur, lumpur manis yang keluar dari ibu-ibu mulai memuncak
sejak ditinggal pemuda itu, ibu-ibu, dan para tokoh yang terlibat
mengeluarkan lumpur dari mulut mereka, mengasikan bukan mereka makanya
banyak yang terikut juga,  dan anehnya lumpur itu manis hingga sering
dijadikan pengganti nasi, kini menggantikan nasi. Bahkan ada hari
lumpur di desa ini, lucunya hari lumpur itu di adakan di mesjid desa
kami. Ibu-ibu dan bapak-bapak akan memuntahkan lumpur dan menelannya
lagi sambil mendengar penceramah berkotbah, kotbah yang akan dilupakan
satu dua hari berbeda dengan lumpur selalu ada cara baru dan rasa baru
setiap minggunya. Aneh karena belum kau nikmati coba kau nikmati
setiap lumpur di desa kami selalu berbeda.
 oh ya karena sangat dinikmati lumpur jadi di ekspor tapi dalam bentuk
pencerita karena haya mereka yang bisa menularkan cara penggunaan
lumpur yang baik dan benar.

Kau tahu ada lagi satu rahasia tapi janggan bilang warga desaku akulah
si pemuda dan aku bukan tak mau menerima dan takut oleh si damar tapi
aku jijik dengan mereka ssststststst............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar