Senin, 26 November 2018

puisi

1.
mana berani aku bicara,
saat kata berubah jadi senjata.
mana berani aku mengeluh,
saat keluh bisa membuat gaduh.
mana berani aku menangis,
saat tangis dianggap mengemis.
mana berani aku berbisik.
karena bisik membuatnya terusik.


2.
banyak orang menjadi penyanggah,
dimedia maya banyak profesor dan ahli agama.
banyak orang menjadi penengah,
padahal sebagian dari mereka orang yang kalah.
banyak orang jadi petani,
menebar bibit benci ditanah maya.


3.
hukum pidana tak bisa apa apa.
hanya menjerat kecoa tua.
sedang tikus lari dan bekarya.


Selasa, 23 Oktober 2018

Diari Masa Lalu Bagian 1



Saya pernah merasa terhina ketika tidak mendapatkan buku, karena orang tua saya menyicil dan membutuhkan watu yang lama untuk melunasinya. Saya juga pernah sedih ketika diledeki karena memiliki sepatu yang sudah jelek. Saya juga pernah tidak diajak main dan memilih main sendiri, menggali-gali pasir. Saya juga pernah merasa kecewa ketika tidak bisa mendaftar les karena biaya. Saya juga jarang nongkrong, duduk duduk ngopi bersama teman-teman.
Kamu pikir saya menderita?
Saat itu, saya berumur sepuluh tahun. Kelas enam SD. Semua anak memakai tas dan sepatu baru setiap tahun. Tapi, 2 tahun terakhir kehidupan keluarga kami sulit. Saat itu membeli perlengkapan sekolah baru adalah impian. Impian baru saya. Keluarga saya seperti ayam, yang bermimpi bahwa besok masih bisa hidup dan mencari makan. Pagi mencari petang habis. Begitu setiap hari.
Saat itu saya dan adik saya mendapat lusuhan sepatu dari sepupu saya. Saya yang memakai. Sedang adik saya, akan diusahakan membeli baru dan dipakai hingga rusak. Terkadang saya iri. Tapi, rasa iri itu cepat sekali berubah menjadi sedih saat membayangkan adik saya mamakai sepatu jelek ini. Sepatu yang warnanya tak lagi hitam, dengan sol yang menipis, dan sedikit koyak dibeberapa bagian.Saya sering diejek saat itu.
Beberapa orang akan berbisik dan menghina, rasanya hati saya sakit. Setiap pulang sekolah saya selalu berharap mendapatkan sepatu bagus di pinggir jalan. Atau uang yang banyak untuk membeli sepatu. Saya juga ingin cepat-cepat lulus SD dan bekerja menjadi penjaga swalayan. Impian yang tak pernah saya dapatkan.
Di tahun itu semuanya terasa sulit. Saya tidak mungkin meminta orang tua saya. Bahkan meminta uang buku pun tak saya lakukan. Guru saya sudah mengingatkan, dari perntanyaan hingga pernyataan. Dari lembut ke penghinaan. Saya tidak mendapatkan buku, sedih awalnya. Tapi saya pikir untuk apa juga. Bukan kah ini berkah, saya jadi tak perlu membayar buku.
Semenjak tahun itu, jalan pikiran saya berubah. Saya tidak pernah menangis atas penghinaan orang. Bahkan saya jadi tak peka pada penghinaan. Saya berubah.
Sebenarnya saya berharap berubah menjadi seorang yang pekerja keras dan menghasilkan uang tanpa meminta orang tua. Tapi ini juga tidak apa-apa.
Saya juga tidak menyesal ketika cita-cita saya untuk menemukan sepatu dan menjadi penjaga swalayan tidak tercapai.

Selasa, 18 September 2018

materi cerita bab 1


Cerita 1:
Pembunuhan Airangga

Cerita ini belum dikembangkan dengan sempurna. 

Airangga anak Pak Karsa meninggal. Ia ditemukan teas tergantung di rumahnya. Bukan, bukan karena mengakhiri hidupnya sendiri. Ia mati terbunuh. Terbunuh oleh tetangganya.

Pak Karsa dan istri, menangis sedih. Elama ini Rangga disekolahkan tinggi tinggi hingga sarjana, di bantu untuk kerja di kantor walikota hingga habi berjuta-juta. Kini tergeletak tak berdaya, tak bernyawa.

Para warga datang berkunjung ke rumah duka. Tapia apa daya, Pak Karsa gila, Bu Karsa, ahh jangan bertanya. Bu Karsa baru menyusul putranya. Tak tahan dengan kerasnya hidup membuat Bu Karsa menghadap Tuhannya.

Para warga riuh, bingung menyalahkan siapa. Hanya diam-diam menaruh curiga pada Ngadimin.
Ngadimin mantan tetangga Pak Karsa, selama ini gemar bergosip mengenai Airangga. Mungkin Ngadimin kecewa karena anaknya tak menjadi pegawai di kantor walikota, meski lulus tesnya. Ngadimin marah besar, tapi mau ngamuk pada siapa. Tes pegawainya tak melalui BKN. Ya namanya juga pegawai sementara. Alhasil Ngadimin hanya dapat melapor Mbah Kusuma.

Mbah Kusuma dulunya penjual tahu di Pasar Kota. Kiosnya kecil dan jarang di lirik oleh nona-nona pernah muda, namun berkat mimpi suatu malam mbah kusuma menerima wangsit untuk beralih profesi. Dan treng treng treng Mbah Kusuma si tukang tahu kini menjelma menjadi dukun serba tahu. Serba penyakit ia tahu obatnya, orang hilang ia tahu mencarinya, kini ia mulai tahu ilmu ilmu garis keras (Teluh, susuk, pellet dan santet) semua ia tahu mantranya.

Ngadimin yang terluka hatinya, hendak mencari tahu apa sebab anaknya ditolak menjadi pegawai sementara. Tanpa berpanjang cerita, tersebutlah satu nama. Airangga, anak Pak Karsa, berkulit putih, hidung bangir, bermata sayu, tinggi 170, pendidikan terakhir ssarjana ilmu sosial kampus ternama diluar kota.

Ngadimin marah, anaknya memang sarjana juga tapi kampus negeri biasa. Ngadimin kecewa pada pemerintah, pada presiden, pada DPR dan MPR, pada MA dan MK.

Ssejak hari itu Ngadimin dendam ssakali. Ia tak meminta mbah Kusuma mengeluarkan jurus apa-apa.  Bukan karena tak mau tapi ia tahu itu dosa. Jadilah Ngadimin sendiri yang mengeluarkan jurus sakti. Menulis status dengan bumbu tambahan dari mbah Google agar terlihat pintar. Status disebarkan dan cerita Ngadimin viral. Birokasi dibenahi dan bully di mulai. Orang-orang seperti Airangga disebut jendela lovers. Dan para jendela lovers merupakan korban terempuk pada dunia baru. Dari FB hingga IG, bahkan di akun ML pun mereka dibully.

Bahkan ada warga yang terang-terangan menghina Bu Karsa, ketika belanja di warung Yu Jum. Bu Karsa hanya bisa membantah, toh bahkan orang yang membunuh tetap tidak akan disebut tersangka sampai pengadilan memutuskan. Siapa yang dapat membuktikan bahwa Airangga lewat jendela. Dukun tahu itu? Atau Ngadimin yang sekarang viral dan pindah ke kota?