Selasa, 23 Oktober 2018

Diari Masa Lalu Bagian 1



Saya pernah merasa terhina ketika tidak mendapatkan buku, karena orang tua saya menyicil dan membutuhkan watu yang lama untuk melunasinya. Saya juga pernah sedih ketika diledeki karena memiliki sepatu yang sudah jelek. Saya juga pernah tidak diajak main dan memilih main sendiri, menggali-gali pasir. Saya juga pernah merasa kecewa ketika tidak bisa mendaftar les karena biaya. Saya juga jarang nongkrong, duduk duduk ngopi bersama teman-teman.
Kamu pikir saya menderita?
Saat itu, saya berumur sepuluh tahun. Kelas enam SD. Semua anak memakai tas dan sepatu baru setiap tahun. Tapi, 2 tahun terakhir kehidupan keluarga kami sulit. Saat itu membeli perlengkapan sekolah baru adalah impian. Impian baru saya. Keluarga saya seperti ayam, yang bermimpi bahwa besok masih bisa hidup dan mencari makan. Pagi mencari petang habis. Begitu setiap hari.
Saat itu saya dan adik saya mendapat lusuhan sepatu dari sepupu saya. Saya yang memakai. Sedang adik saya, akan diusahakan membeli baru dan dipakai hingga rusak. Terkadang saya iri. Tapi, rasa iri itu cepat sekali berubah menjadi sedih saat membayangkan adik saya mamakai sepatu jelek ini. Sepatu yang warnanya tak lagi hitam, dengan sol yang menipis, dan sedikit koyak dibeberapa bagian.Saya sering diejek saat itu.
Beberapa orang akan berbisik dan menghina, rasanya hati saya sakit. Setiap pulang sekolah saya selalu berharap mendapatkan sepatu bagus di pinggir jalan. Atau uang yang banyak untuk membeli sepatu. Saya juga ingin cepat-cepat lulus SD dan bekerja menjadi penjaga swalayan. Impian yang tak pernah saya dapatkan.
Di tahun itu semuanya terasa sulit. Saya tidak mungkin meminta orang tua saya. Bahkan meminta uang buku pun tak saya lakukan. Guru saya sudah mengingatkan, dari perntanyaan hingga pernyataan. Dari lembut ke penghinaan. Saya tidak mendapatkan buku, sedih awalnya. Tapi saya pikir untuk apa juga. Bukan kah ini berkah, saya jadi tak perlu membayar buku.
Semenjak tahun itu, jalan pikiran saya berubah. Saya tidak pernah menangis atas penghinaan orang. Bahkan saya jadi tak peka pada penghinaan. Saya berubah.
Sebenarnya saya berharap berubah menjadi seorang yang pekerja keras dan menghasilkan uang tanpa meminta orang tua. Tapi ini juga tidak apa-apa.
Saya juga tidak menyesal ketika cita-cita saya untuk menemukan sepatu dan menjadi penjaga swalayan tidak tercapai.