Minggu, 05 Februari 2012

cerpen: PAMAN

Aku pernah menolong orang dulu, dulu sekali. mungkin saat aku masih miskin.
"Ayah mandi sana"
"Kenapa nak?"
"Nanti pacarku mau kesini ayah dia pengusaha sukses lho"
"lha terus"
"Ayah dia mau ketemu ayah masak ayah gak malu sama calon menantu"
"Kan baru calon sayang"
"Ibuuu liat ayah nih bu"
"Ada apa sihhh". kulihat istriku sudah rapi cantik dengan kebaya yang sepertinya baru
"Aduh bapak kok belum siap-siap nanti mau ada tamu"
"Yo ben wong aku lagi males nerimo tamu, kalau mau ketemu yo suruh ngenteni wae"
mereka pergi meninggalkan aku yang tak mau peduli aku letih penyakit tua ini mulai menggrogoti jiwa muda,muda apa layak aku disebut muda.
"ayah kenalin ini" Putriku datang membawa seorang laki-laki yang cukup gagah namuntak segagah aku.
"paman lama tidak jumpa"
"siapa"
"ini pacarku"
"aku yang waktu itu paman cegah bunuh diri"
"bunuh diri,kenapa sayang"
"maaf yang mana ya"
"yang 10 tahun lalu yang paman nasehati"

Wah si anak pejabat ini, masih ingat rupanya dia.
"Wah gimana kabarmu sekarang? Apa ayahmu dan rekan-rekannya memarahimu?"
"Tidak, tidak paman. Mereka mencari Anda selama ini"
"Hah? tapi aku tidak pernah bertemu keluargamu dan dirimu?"

"Udah nanti saja lanjut ceritanya kita makan dulu ya" Ujar putriku meninggalkan aku.
"Nanti ayah nyusul, ayah mau . . ."
"Merokok" teriakan terakhirnya sebelum hilang menuju ruang makan.

sendiri, ditemani rokok di teras rumah tua ini. kehidupanku berubah aku tak lagi menjadi pedagang tua miskin di pinggir jembatan sepi. Kini aku punya  toko roti, becabang. Tersebar diseluruh kota-kota besar. Bangga tentu saja.

dulu aku juga pernah menolong seseorang, anak lelaki di dekat jembatan sepi.
Saat itu aku melihatnya berdiri.  Ia terdiam sesaat, setelah sesak yang sangat terlihat dari raut wajahnya. ia masih muda hijau dan panjang jalan hidupnya namun mengapa ia merenung, entah apa yang ia renungkan, tanganya  menggigil diterik cuaca sehangat ini,
sekarang ia menangis, mengapa pemuda segagah dia menangis?

Ia memasang kuda-kuda siaga melompat, gila aku tak mau menjadi saksi mata kutarik lenganya kujelaskan bahwa bunuh diri itu tindakan bodoh dan merugikan dan aku tak mau berurusan dengan polisi walau sebatas saksi. Sial, bukanya diam ia semakin menjadi-jadi. Awalnya aku jijik seorang ppemuda gagah yang masih sehat tubuhnya meraung karena gagal bunuh diri, tapi jujur aku tak tega juga pada akhirnya. Melihatnya menangis di depan mata, meraung karena ku gagalkan niatnya. Dari tampangnya dia seusia anak ku. Bagaimana jika anak ku. Pikiran ku melayang memikirkan putraku yang meninggal beberapa tahun lalu. Tuhan memang menyayanginya, dan tak ingin ia banyak bergaul dengan kemiskinan ku.
"Aku mau mati saja paman masa depanku hancur aku malu, aku malu dengan teman-teman dan orang tuaku paman aku membuat malu keluarga apa yang akan dikatakan rekan-rekan ayahku jika aku tidak lulus lagi." Sial juga anak ini, memecah lamunanku.
"Jadi sudah dua kali ya... seharusnya kamu sudah berpengalaman dong. Hadapi saja, namanya juga kegagalan. Kenapa tak coba bisnis seperti orang tua mu." Kata ku sok menasehati.
"Ayah saya pejabat paman."
Anak pejabat rupanya.
"Oouwh bagus itu berarti kamu bisa ajak teman-teman ayah kamu untuk bekerja sama membantu bisnis kamu"
"Tapi pa.........."
"Tapi kenapa kalau belulm mencoba belum tentu bisakan kalah menang untung gagal serahkan sama tuhan"


"Kenapa tidak cerita bahwa kamu mengenalnya?"
"Kamu tidak tanya"
"Kenapa mau bunuh diri"
"Tanya saja pada ayahmu, semoga dia tak lupa"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar