Selasa, 07 Februari 2012

cerpen: saya

inilah saya hidup dalam suatu hal yang tak perlu lagi disesalkan karena penyesalan atas keputusan itu bodoh untuk apa menyesali hal yang telah lewat dan berdiam diri lebih baik kita berusaha memperbaiki karena bagi saya sebaik-baiknya orang adalah dia yang memperbaiki taraf kehidupannya tanpa pernah menyesal sekalipun terhadap apa yang telah diberikan tuhan kepadanya karena saya meyakini bahwa tuhan memberikan rahmat kepada apapun didunia ini walau itu kotoran sekalipun, coba bayangkan jika dalam waktu sebulan kita tidak menguarkan kotoran hufh apa jadinya kita.

anugrah itu selalu tuhan berukan tapi kita saja yang tidak mensyukuri karena kita ingin lebih, lebih cantik, lebih kaya dan lebih segala-galanya hingga saat kita dalam suatu masalah kecil saja kita akan putus asa, bunuh diri, sekarang coba pikir apa dengan bunuh diri semua selesai nggak kita akan menambah masalah di alam sana alam yang selana ini tak mau kita bayangkan hufh terkadang saya bingung kepada diri saya misalnya saat menerima pengumuman kelulusan saya panik dan beberapa hari sebelumnya terbesit untuk bunuh diri untungnya saya adalah tipikal orang takut mati dan belum siap mati untungnya berkata orang tua saya lulus tak lulus bukan masalah yang menjadi masalah jika kamu membunuh atau bunuh diri nah itu adalah masalah yang membuat kami malu mendengar itu saya jadi tak takut dan berani meskipun agak takut tapi saya percaya bahwa ini bukan akhir dunia begitu pula sekarang saat sasya terancam kebangkrutan apa yang mesti saya takutkan takut miskin saya sudah biasa miskin takut dicerai istri karena miskin malah bagus saya berarti dapat menyingkirkan istri yang lebih mencintai dunianya daripada akherat untuk apa memimpin suatu yang tak dapat dipimpin.

saya dicerai tak apa bukan jodoh tapi saat saya bertemu lagi dengan dia dia berbeda sudah jadi ibu pejabat rupanya sedikit malu saat dia dengan sombongnya bertanya sudah kerja dimana dan minta kartu nama saya saya berikan saja kartu nama saya lalu saya pergi tak saya hiraukan lagi teriakannya yang menggil nama saya
mungkin dia memanggil karena tercengang melihat pekerjaan saya yang sudah berhasil dibidang industri walau dulu sempat gagal hingga ditinggalkan

Minggu, 05 Februari 2012

cerpen: PAMAN

Aku pernah menolong orang dulu, dulu sekali. mungkin saat aku masih miskin.
"Ayah mandi sana"
"Kenapa nak?"
"Nanti pacarku mau kesini ayah dia pengusaha sukses lho"
"lha terus"
"Ayah dia mau ketemu ayah masak ayah gak malu sama calon menantu"
"Kan baru calon sayang"
"Ibuuu liat ayah nih bu"
"Ada apa sihhh". kulihat istriku sudah rapi cantik dengan kebaya yang sepertinya baru
"Aduh bapak kok belum siap-siap nanti mau ada tamu"
"Yo ben wong aku lagi males nerimo tamu, kalau mau ketemu yo suruh ngenteni wae"
mereka pergi meninggalkan aku yang tak mau peduli aku letih penyakit tua ini mulai menggrogoti jiwa muda,muda apa layak aku disebut muda.
"ayah kenalin ini" Putriku datang membawa seorang laki-laki yang cukup gagah namuntak segagah aku.
"paman lama tidak jumpa"
"siapa"
"ini pacarku"
"aku yang waktu itu paman cegah bunuh diri"
"bunuh diri,kenapa sayang"
"maaf yang mana ya"
"yang 10 tahun lalu yang paman nasehati"

Wah si anak pejabat ini, masih ingat rupanya dia.
"Wah gimana kabarmu sekarang? Apa ayahmu dan rekan-rekannya memarahimu?"
"Tidak, tidak paman. Mereka mencari Anda selama ini"
"Hah? tapi aku tidak pernah bertemu keluargamu dan dirimu?"

"Udah nanti saja lanjut ceritanya kita makan dulu ya" Ujar putriku meninggalkan aku.
"Nanti ayah nyusul, ayah mau . . ."
"Merokok" teriakan terakhirnya sebelum hilang menuju ruang makan.

sendiri, ditemani rokok di teras rumah tua ini. kehidupanku berubah aku tak lagi menjadi pedagang tua miskin di pinggir jembatan sepi. Kini aku punya  toko roti, becabang. Tersebar diseluruh kota-kota besar. Bangga tentu saja.

dulu aku juga pernah menolong seseorang, anak lelaki di dekat jembatan sepi.
Saat itu aku melihatnya berdiri.  Ia terdiam sesaat, setelah sesak yang sangat terlihat dari raut wajahnya. ia masih muda hijau dan panjang jalan hidupnya namun mengapa ia merenung, entah apa yang ia renungkan, tanganya  menggigil diterik cuaca sehangat ini,
sekarang ia menangis, mengapa pemuda segagah dia menangis?

Ia memasang kuda-kuda siaga melompat, gila aku tak mau menjadi saksi mata kutarik lenganya kujelaskan bahwa bunuh diri itu tindakan bodoh dan merugikan dan aku tak mau berurusan dengan polisi walau sebatas saksi. Sial, bukanya diam ia semakin menjadi-jadi. Awalnya aku jijik seorang ppemuda gagah yang masih sehat tubuhnya meraung karena gagal bunuh diri, tapi jujur aku tak tega juga pada akhirnya. Melihatnya menangis di depan mata, meraung karena ku gagalkan niatnya. Dari tampangnya dia seusia anak ku. Bagaimana jika anak ku. Pikiran ku melayang memikirkan putraku yang meninggal beberapa tahun lalu. Tuhan memang menyayanginya, dan tak ingin ia banyak bergaul dengan kemiskinan ku.
"Aku mau mati saja paman masa depanku hancur aku malu, aku malu dengan teman-teman dan orang tuaku paman aku membuat malu keluarga apa yang akan dikatakan rekan-rekan ayahku jika aku tidak lulus lagi." Sial juga anak ini, memecah lamunanku.
"Jadi sudah dua kali ya... seharusnya kamu sudah berpengalaman dong. Hadapi saja, namanya juga kegagalan. Kenapa tak coba bisnis seperti orang tua mu." Kata ku sok menasehati.
"Ayah saya pejabat paman."
Anak pejabat rupanya.
"Oouwh bagus itu berarti kamu bisa ajak teman-teman ayah kamu untuk bekerja sama membantu bisnis kamu"
"Tapi pa.........."
"Tapi kenapa kalau belulm mencoba belum tentu bisakan kalah menang untung gagal serahkan sama tuhan"


"Kenapa tidak cerita bahwa kamu mengenalnya?"
"Kamu tidak tanya"
"Kenapa mau bunuh diri"
"Tanya saja pada ayahmu, semoga dia tak lupa"